FOTO: Masyarakat Loyok "ngulat"Anyaman bambu.
LOMBOK TIMUR, Bumigoramedia.com — Semangat melestarikan warisan leluhur terus menyala di Desa Loyok. Pemuda pemerhati budaya yang tergabung dalam Karang Taruna, Bajang Loyok Mentangi, Bajang Drex, Daster, hingga Praja, bersama Pemerintah Desa Loyok, bersiap kembali menggelar event budaya puncak Gawe Adat Inan Dowe II, yang akan berlangsung pada 8–9 September 2026.
Ketua Panitia Event, Lalu Arya, menjelaskan bahwa nama "Inan Dowe" memiliki makna filosofis yang sangat mendalam bagi masyarakat Desa Loyok.
"Inan berarti ibu atau pusat yang utama, dan Dowe berarti harta atau milik kekayaan. Jadi Inan Dowe bermakna pusat utama harta kekayaan — yaitu seni anyaman bambu yang menjadi identitas dan kebanggaan Desa Loyok," terangnya saat ditemui, Minggu (30/08/2026).
Nama itu bukan sekadar nama acara. Ia adalah pernyataan jati diri: Desa Loyok adalah muara utama dan sentra kerajinan anyaman bambu di kawasan NTB.
Salah satu fokus utama gelaran tahun ini adalah penegasan klaim historis atas warisan seni anyaman bambu tersebut. Banyak pihak yang belakangan mengklaim kerajinan itu sebagai milik mereka, sehingga para pemuda Desa Loyok merasa perlu menyuarakannya dengan tegas.
"Kami menegaskan di event ini bahwa seni anyaman bambu memang milik nenek moyang kami. Banyak pihak yang mengklaimnya, padahal ini sudah ada sejak dulu di tanah kami," tegas Arya.
Rangkaian acara sengaja disusun untuk memperkuat pemahaman publik mengenai asal-usul asli karya seni bambu setempat, sekaligus memperkokoh posisi Desa Loyok sebagai sentra kerajinan bambu yang sejati.
Penyelenggaraan tahun ini dirancang lebih meriah dibanding sebelumnya, berkat sinergi luas yang dibangun panitia. Tidak hanya melibatkan organisasi pemuda dan pemerintah desa, panitia juga menggandeng jajaran Pemerintah Kabupaten Lombok Timur hingga Pemerintah Provinsi NTB guna mendukung kesuksesan agenda tersebut.
Diproyeksikan acara ini akan dihadiri langsung oleh Gubernur NTB, Bupati Lombok Timur, serta sejumlah pejabat daerah lainnya. Kehadiran para pemangku kebijakan diharapkan membawa dampak positif bagi perkembangan sektor industri kreatif warga dan membuka akses yang lebih luas bagi produk anyaman Desa Loyok.
"Kami berupaya menjadikan momentum ini sebagai panggung publikasi berskala luas. Kami berharap melalui event ini produk anyaman bambu Desa Loyok bisa kembali mendunia," ujar Arya penuh harap.
Dukungan penuh juga datang dari Kepala Desa Loyok, Lalu Bahaidin. Ia menilai kolaborasi lintas generasi antara pemuda dan pemerintah desa menjadi kunci utama keberhasilan pelestarian tradisi daerah.
"Pemerintah desa memberikan apresiasi setinggi-tingginya atas semangat para pemuda yang terus merawat warisan budaya. Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang melestarikan tradisi, tetapi juga mampu menggerakkan roda ekonomi warga lokal," ungkap Kades Lalu Bahaidin.
Pemerintah Desa Loyok berkomitmen menyediakan fasilitasi maksimal demi kelancaran seluruh rangkaian acara. Sinergi yang terjalin diproyeksikan mampu menyedot perhatian ribuan pengunjung dari berbagai daerah. Festival ini siap menjadi agenda tahunan unggulan yang memperkokoh posisi Desa Loyok sebagai sentra kerajinan bambu utama di NTB.
"Semoga seluruh rangkaian acara berjalan sukses dan membawa kebanggaan bagi daerah," pungkasnya.
0 Komentar