FOTO : Rohman Rofiki.
LOMBOK TIMUR, Bumigoramedia.com — Jumat, 21/08/2026. Lembaga Insight for Development and Sustainability (IDEAL) menampar keras wajah pengelola program Perlindungan Sosial (Perlinsos) Kabupaten Lombok Timur. Temuan di lapangan sungguh memalukan: orang yang nyata-nyata miskin justru ditempatkan di desil tinggi, sementara yang punya pekerjaan tetap, rumah, dan kendaraan malah masuk daftar paling miskin!
Direktur IDEAL, Rohman Rofiki, tak main-main menyebutkan bahwa pendataan yang dilakukan pemerintah selama ini lebih mirip sekadar mengumpulkan angka untuk pamer, bukan data yang benar-benar mencerminkan kondisi rakyat.
“Jangan hanya sibuk menghitung berapa ribu orang sudah didata! Yang jauh lebih penting: apakah data itu sesuai dengan kenyataan? Kalau tidak sesuai, untuk apa semua keributan ini?!” seru Rohman dengan nada tinggi.
SKANDAL DI BALIK ANGKA: INI BUKAN KESALAHAN, INI KELALAIAN!
IDEAL membeberkan kasus-kasus yang bikin darah mendidih:
- Seorang tukang tambal ban, tinggal numpang, punya tiga anak, istri sedang hamil — HANYA LAYAK DESIL 6! Artinya dia dianggap tidak terlalu miskin, padahal nyaris tidak punya apa-apa!
- Sementara itu, pegawai MBG yang punya pekerjaan tetap, rumah sendiri, dan kendaraan — DIANGGAP PALING MISKIN, MASUK DESIL 1!
- Belum lagi kasus sopir angkutan yang punya rumah dan kendaraan, malah ditempatkan di desil 8. Siapa yang mempercayai ini?!
“Kami tidak langsung menuduh sistemnya salah, tapi kasus-kasus seperti ini bukan kebetulan! Ini bukti nyata bahwa pendataan di lapangan tidak bekerja! Ada yang kelalaian, ada yang mungkin main mata! Pemerintah wajib periksa ulang dari awal sampai akhir!” tegas Rohman.
MASYARAKAT TIDAK TAHU APA-APA, PEMERINTAH TIDAK TRANSPARAN!
Lebih parah lagi, ternyata banyak warga sendiri tidak tahu mereka masuk desil berapa! Bagaimana mereka bisa membela diri atau menyanggah kalau datanya salah, kalau mereka sendiri tidak diberi tahu apa status mereka?!
“Di mana transparansi?! Di mana akuntabilitas?! Kalau warga tidak tahu datanya, bagaimana mereka bisa memperbaikinya? Pemerintah harus buka semua data, beri ruang sanggah yang mudah diakses, jangan sembunyikan di balik tumpukan kertas!” sergahnya.
BERHENTI MENGEJAR PENGHARGAAN, KEJAR KEADILAN!
Rohman juga menampik kebanggaan pemerintah atas capaian pendataan. “Jangan bangga dulu! Jangan kejar penghargaan dan pujian dari atas! Ukuran keberhasilan itu sederhana: Orang miskin dapat bantuan, orang mampu jangan campuri jatah mereka! Kalau ini saja tidak bisa dibedakan, untuk apa pemerintah ada?!”
IDEAL menegaskan tidak bermaksud menuduh semua pendataan salah, tetapi temuan lapangan sudah cukup menjadi alasan untuk evaluasi terbuka dan menyeluruh. Pemerintah wajib membuka data: berapa yang diverifikasi, berapa yang berubah desil, berapa sanggahan yang masuk, dan berapa yang ditindaklanjuti. Semua itu harus dipublikasikan, bukan disembunyikan!
“Jangan sampai rakyat miskin menangis sementara yang mampu tertawa mendapat jatah mereka. Itu bukan keadilan, itu ketidakadilan yang disengaja! Perbaiki sekarang, atau kami yang akan bongkar semuanya!” pungkas Rohman Rofiki dengan nada mengancam. (01)
0 Komentar