FOTO : Tuan Guru Bajang Kiai Haji Muhammad Zainul Majdi.
LOMBOK TIMUR,Bumigiramedia.com – Rektor IAIH Pancor sekaligus Ketua Umum PB Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah (NWDI), Dr. TGH. Muhammad Zainul Majdi, angkat bicara dengan tegas terkait penyebutan namanya dan nama organisasi dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi III DPR RI soal dugaan penganiayaan santri.
Dalam klarifikasi yang diunggah lewat media sosial pada Selasa (14/7/2026), TGH Zainul Majdi menegaskan: Pondok pesantren tempat kejadian kasus itu sama sekali tidak berada di bawah naungan NWDI yang ia pimpin!
"Saya jelaskan dengan tegas: Pondok pesantren tempat terjadinya dugaan penganiayaan tersebut adalah di bawah naungan organisasi lain, bukan NWDI. Hal ini perlu diluruskan agar tidak menyebar kesalahpahaman dan fitnah di masyarakat," tegasnya.
⚠️ PERINGATAN KERAS: Pisahkan Masalah Individu dan Organisasi
Ia sangat menyayangkan ada pihak yang sembarangan mengaitkan kasus pidana individu dengan nama besar organisasi yang telah berjuang untuk bangsa.
"Silakan usut tuntas kasus pidananya, hukum siapa pun yang bersalah tanpa pandang bulu. Tapi jangan pernah bawa-bawa nama organisasi tertentu! Apalagi organisasi ini telah banyak berjasa dalam perjuangan kemerdekaan dan mencerdaskan kehidupan bangsa," serunya.
TGH Zainul Majdi meminta aparat penegak hukum bekerja cepat, tegas, dan transparan menuntaskan perkara ini. Jangan biarkan ruang kosong diisi spekulasi liar yang berujung fitnah merusak nama baik lembaga pendidikan Islam.
"Segera selesaikan proses hukumnya! Jangan biarkan masyarakat berspekulasi sembarangan, itu sangat berbahaya dan bisa memicu keributan," tegasnya.
🤝 Jaga Pesantren Tetap Menjadi Rumah Aman
Lebih lanjut, ia mengajak seluruh elemen bangsa bahu-membahu menjaga marwah pesantren sebagai tempat yang aman, nyaman, dan penuh kasih sayang bagi para santri menuntut ilmu.
"Pesantren harus tetap menjadi rumah aman bagi thullabul ilmi, tempat mendalami agama dan membangun karakter mulia. Mari kita jaga bersama," ujarnya.
Ia juga menyambut baik segala bentuk kritik masyarakat—sekeras apa pun itu—terhadap dunia pesantren. Kritik tersebut dianggap sebagai wujud cinta dan kepedulian, yang akan dijadikan bahan evaluasi serius untuk memperbaiki sistem perlindungan dan kesejahteraan seluruh santri.
"Terima kasih atas semua perhatian dan kritik. Itu memacu kami untuk berbenah, memastikan setiap santri terlindungi lahir dan batin dengan sebaik-baiknya," pungkasnya. (01)
0 Komentar