Breaking News

Selamatkan Anak Bangsa dari Jeratan Gawai dan Konten

OPINI 
Oleh: ABDURRAHMAN, A., Mn
 
.         Gambar Ilustrasi Anak dan Ayah.

LOMBOK TIMUR,Bumigoramedia.com  — Hari Pendidikan Nasional yang diperingati setiap 22 Oktober memang layak dirayakan. Ucapan selamat berdatangan, harapan-harapan terangkai dalam kata-kata yang indah. Namun, di tengah gemuruh perayaan itu, ada satu hal yang harus membuat kita berhenti sejenak dan membuka mata lebar-lebar: Dunia pendidikan saat ini sedang berhadapan dengan musuh yang nyaris tak terlihat, namun dampaknya sangat nyata — gawai dan arus konten yang tak terkendali.
 
Dulu, anak-anak berlari menuju halaman rumah untuk bermain bersama. Sekarang, mereka lebih banyak menunduk, mata terpaku pada layar, jari bergerak cepat menyapu layar ponsel yang seolah tak mau lepas dari genggaman. Gawai yang seharusnya menjadi alat bantu belajar, kini perlahan berubah menjadi penguasa waktu dan pikiran generasi muda kita.
 
Guru dan pendidik pun tak luput merasa berat. Di ruang kelas, mereka bukan lagi sekadar mengajar materi pelajaran, tetapi juga berjuang menarik kembali perhatian peserta didik yang pikirannya sudah terbang ke dunia maya. Aturan-aturan memang sudah dibuat, Undang-Undang memang ada, tetapi realitas di lapangan menunjukkan sesuatu yang lain. Sistem yang ada seolah berjalan sendiri, sementara nilai-nilai keimanan, akhlak, dan moral yang seharusnya menjadi fondasi utama pendidikan, kini terasa semakin tergerus.
 
Kita tidak menolak kemajuan teknologi. Tetapi kita harus sadar: ketika gawai lebih mendikte hari-hari anak-anak kita daripada nasihat orang tua dan pendidik, maka ada yang salah dalam cara kita mendidik. Konten yang tak terfilter, informasi yang tak tersaring, waktu bermain yang tak teratur — semua ini perlahan namun pasti membentuk karakter generasi kita.
 
Masa depan bangsa tidak ada di layar ponsel. Ia ada di tangan anak-anak kita yang tumbuh dengan akal yang cerdas, hati yang berbudi luhur, dan akhlak yang mulia. Selamat Hari Pendidikan Nasional bukan sekadar ucapan. Mari ia menjadi pengingat bahwa tugas terbesar kita saat ini adalah menyelamatkan anak bangsa — dari kita, oleh kita, dan untuk masa depan kita.
 
Karena pendidikan sejati bukanlah sekadar transfer ilmu. Ia adalah penanaman kebaikan yang abadi. 

Redaksi BM
 
 
 

0 Komentar

© Copyright 2022 - BumigoraMedia